1. Moderasi Beragama sesungguhnya merupakan kebaikan moral bersama yang relevan, tidak saja dengan perilaku individu, melainkan juga dengan komunitas dan lembaga.
  1. Moderasi telah lama menjadi aspek yang menonjol dalam sejarah peradaban dan tradisi semua agama di dunia, termasuk yang terjadi di bumi nusantara.
  1. Masing-masing agama niscaya memiliki kecenderungan ajaran yang mengacu pada satu titik makna yang sama, yakni jalan tengah dan tidak berlebih-lebihan, sebagai sikap beragama yang paling ideal.
  1. Kesamaan nilai moderasi itu pula yang menjadi energi sehingga menginspirasi dan mendorong terjadinya pertemuan bersejarah 2 tokoh agama besar dunia, Paus Fransiskus dengan Imam Besar Al-Azhar, Shaikh Ahmad Thayyeb (4 Feb 2019).
  1. Pertemuan tersebut telah menghasilkan dokumen persaudaraan kemanusiaan, yang pesan utamanya antara lain: musuh utama kemanusiaa adalah ekstremisme akut, hasrat saling memusnahkan, perang, intoleransi, serta rasa benci antar sesama dengan mengatasnamakan agama.
  1. Sejumlah peristiwa ekstremisme dan terorisme di berbagai belahan dunia sesungguhnya bukanlah monopoli satu agama saja, dan hal tersebut tidak mendapatkan tempat dalam agama mana pun.
  1. Sebagai negara yang plural dengan multikultural, konflik yang mengatasnamakan agama sangat potensial terjadi di Indonesia, dan itulah mengapa Moderasi Beragama sebagai solusi berbangsa agar masyarakat hidup rukun, damai, dan harmoni.
  1. Cara pandang dan praktik moderasi dalam beragama bukan hanya kebutuhan masyarakat Indonesia, melainkan kebutuhan global masyarakat dunia menyongsong peradaban manusia yang modern, maju, dan bermartabat.

sumbe: FB Thobib Al-Asyhar @biebasyhar (anggota tim Pokja MB Kemenag, Plt. Karo HDI, dosen Program Kajian Timur Tengah dan Islam SKSG, Universitas Indonesia)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *